Konsultasi Psikologi

Beda Gairah, di Luar Makin Parah

Ibu, saya suami yang menikah empat tahun lalu. Pada awal pernikahan, semua berlangsung biasa saja. Hanya persoalan seks yang selalu mengganjal hubungan kami. Minat seks istri turun drastis. Padahal, saya semakin “kencang,” sampai bisa mengalahkan istri tiga ronde dalam satu kali permainan. Istri sebaliknya, jadi tambah dingin. Sebab, dia sering takut hamil, apalagi membayangkan sakitnya pengguguran (saat pacaran, kami sudah melakukan hubungan seks dan tiga kali menggugurkan kandungan).

Terus terang Bu, nafsu saya besar, dan nafsu ini mengalahkan akal sehat. Tetapi, istri dingin. Gaya yang dimiliki istri hanya satu saja. Saya jadi bosan dan akhirnya mau pergi diajak teman-teman ke WTS (wanita tunasusila). Sejak saat itu, saya jadi pelanggan tetap. Di sana, saya dapat melakukan apa saja dan akhirnya ketahuan istri. Dia sampai histeris dan mengancam mau bunuh diri segala. Saya harus bersumpah untuk tidak ke WTS lagi. Tetapi, setelah itu, dia jadi semakin tidak suka, jijik (saya pernah terjangkit penyakit), dan semakin dingin saja. Seks dilakukan dengan hambar.

Saya pun kembali mencari kepuasan di luar, sekarang ke WTS kelas tinggi. Ini pun ketahuan juga, sampai istri minta cerai. Untuk sementara, saya benar-benar KO dan tidak main ke WTS lagi. Namun, istriku tidak pernah berubah. Dia dingin, jijik, hambar, dan tetap dengan satu gaya dalam berhubungan seks. Meskipun saya sudah berusaha meng-up grade dia dengan buku-buku tentang seks, ikut seminar, video biru, dan lain-lain, tidak ada kemajuan apa-apa. Dia pun tidak mau pergi ke psikolog atau psikiater.

Akhirnya, saya terlibat lebih parah lagi karena punya tiga “pacar” sekaligus. Sampai sekarang, saya masih berhasil mengatur jadwal sehingga tidak “bentrok.” Sukarnya, saya jadi jatuh cinta kepada salah seorang di antara ketiganya. Tiap ada kesempatan, kami kencan. Anehnya, tiga wanita itu, masing-masing, kenal baik dengan istri saya. Bu, salah seorang yang saya cintai pun tidak cocok dengan suaminya. Sedangkan kami merasa cocok sekali, baik pengetahuan, hasrat, keinginan, maupun cita-cita yang sama. Bu, saya khawatir karena affair ini bagai menyimpan bom yang dapat meledakkan empat keluarga sekaligus. Saya percaya, Ibu akan memberikan jalan terbaik bagiku. Saya ucapkan banyak terima kasih.

Kian, Malang

Cinta dan seks memang berkawan, tapi bisa pula jadi lawan bila tak ada jembatan komunikasi atau kompromi. Apalagi, semua sudah terjadi. Apalagi bila Beda persepsi. Apalagi bila ada tragedi. Terus?

Rasanya, ada yang perlu Anda pahami. Seks di benak istri Anda saat ini mungkin sudah penuh dengan coretan traumatis. Mungkin, seks sudah bukan manifestasi cinta kasih lagi, tapi sekadar kewajiban atau bahkan beban. Sedangkan bagi Anda, seks merupakan kebutuhan, bahkan kerap sudah menjadi kebutuhan yang tak dapat dikendalikan, agak punya konotasi impulsif (maaf).

Kenapa gairah istri Anda kian lama kian pudar? Itu berawal dari ketakutannya akan terjadi kehamilan. Mungkin, saat itu dia masih bergairah. Tapi, terpaan rasa takut hamil mengalahkan gairahnya dan membuat dia setengah hati melakukannya. Apalagi, ditambah rasa bersalah telah pernah melakukan aborsi tiga kali sebelum menikah (iyalah, bisa dipahami, apalagi bila dia manusia normal, pasti rasa bersalah tersebut bisa menyisakan parut di benaknya dan membuat dia agak sulit menerima seks sebagai kegiatan yang menyenangkan). Bagaimana seandainya Anda jadi dia, bisa dibayangkan? Semestinya, hal tersebut ditanggulangi dulu. Bagi perempuan, seks lebih intens melibatkan perasaan. Atau, perasaanlah yang lebih sering menggerakkan gairahnya.

Seks dimaknai lebih paripurna, bukan sekadar kebutuhan biologis. “Women experience sexual pleasure in many different ways: physically, emotionally, spiritually, and intellectually,” kata seorang ahli dalam buku koleksi The Boston Women’s Health Book. Mau tidak mau, lantaran Anda mengawini perempuan (bukan sesama laki-laki kan?), jadi hal-hal tersebut harus dikompromikan. Kendati tak dapat disangkal, intensitas hambatan mereka tak sama, sangat dipengaruhi persepsi, pengalaman seksual, dan kulturalnya. Tapi, sekali mereka bisa menemukan “kunci seksual” yang indah dan nyaman, mereka akan belajar untuk mengenyahkan hambatannya serta bisa merespons rangsang seksual sebagai sesuatu yang menyenangkan. Demikian ditulis Christine Webber, seorang psikoterapis.

Selanjutnya, tragedi perkawinan terjadi. Anda mulai berseks ria dengan para pelacur. Perasaannya pasti lebih terluka. Mungkin, dia memaafkan Anda. Tapi, gairah seksnya redup. Lantas, Anda malah berpetualang dengan memacari tiga perempuan sekaligus. Istri Anda terjerembab lebih dalam lagi. Gairahnya kian dingin. Anda bingung dan tak mengerti, kenapa istri kok tak mau berubah?

Coba Anda bayangkan berganti posisi, ketika Anda sedang berhubungan seks, lantas teringat istri Anda tengah melakukan dengan pria lain lantaran Anda tak dapat memenuhi selera seksualnya karena Anda membosankan. Mungkin, itulah yang terjadi pada istri Anda. Seks kian menjadi kegiatan tak menarik, penuh catatan traumatis.

Cobalah selesaikan masalah dasarnya atau lewat bantuan seorang ahli. Kalau tidak ada jalan keluar, ada baiknya dipikirkan pilihan terbaik bagi Anda berdua sebelum bom yang Anda pasang meletus duluan. (*)

Nalini M. Agung

Psikiater

Advertisements

~ by wahyukokkang on February 1, 2009.

20 Responses to “Konsultasi Psikologi”

  1. wuih nekat bener smpe 3 eh 4 ma istrinya. awas kena labrak bersamaan

  2. Salam kenal,
    terus terang saat ini saya dihadapkan dengan dilematis yg cukup besar. Saya seorang wanita berusia 25 tahun (muslim yg cukup baik) yg bekerja di perusahaan swasta. Baru 6 bulan lalu saya diterima bekerja diperusahaan X (sebut saja bgt). Dari dahulu saya tahu bhw saya memiliki kecenderungan utk mencintai perempuan dibandingkan dgn laki-laki, meskipun saya blm pernah berpacaran baik dgn laki-laki maupun perempuan. Saya sdh bekerjasama dgn atasan saya yg seorang perempuan berinisial JS selama 6 bulan, mulai dari pertama kali dia menginterview saya, saya sdh suka, hingga ktk saya diterima bekerja olehnya perasaan itu semakin lama semakin dalam.

    Sulit rasanya bagi saya utk bekerja scr profesional dgn bos saya, mengingat saya sering grogi bila berbicara dgnnya. terlebih lagi dia bos yang cantik, lembut, dan penuh perhatian kpd saya, yg terkadang suka berbicara manja kpd saya, meskipun saya tahu bhw itu adalah karakter JS. JS sudah berkeluarga dan memiliki 1 orng anak.

    Pertanyaan saya :
    1. apa yg hrs saya lakukan utk menghilangkan perasaan tsb?
    2. dapatkah saya menjadi wanita yg heteroseksual, seperti yg lainnya?
    3. apakah mungkin JS menutupi perasaannya thdp saya, mengingat dia bgt baik dan sayang thdp saya, tapi dia juga telah berkeluarga dan hidup dlm keluarga yg baik dan kaya?

    Trm ksh atas jawabannya.

  3. Salam kenal
    Saya ingin berkonsultasi, masalah suami saya. Sekarang suami saya sebelum “main” dengan saya, harus didahului dengan permainan lewat internet. Saya harus mencari lawan jenis di internet untuk diajak sex cam. Jika seperti itu, baru suai saya bisa ereksi. Gimana solusinya? Terima kasih banyak

  4. saya bingung dengan perasaan saya, saya selalu mempunyai nilai negatif tentang perasaan saya sendiri. saya cinta dengan seorang perempuan yang bisa membuat saya bisa larut dalam cinta itu. suatu waktu saya di hadapkan dengan sebuah masalah, saya berhubungan dengan dia dan orang tuanya melarang saya untuk berhubungan lagi dengan dia, meskipun saya sudah kehilangan kontak dengan dia tetapi saya masih saja tidak bisa menghilangkn perasaan itu. tiap kali dia jalan dengan laki laki lain saya selalu emosi dan tidak bisa membendung emosi itu. bisa memberi konsultasi tentang itu?

    dan saya tanya lagi. cinta emosi itu apa?

  5. Kak Seto Yth,

    Sebelumnya perkenalkan nama saya langit. Saat ini saya berusia 31 tahun, belum menikah. Saya anak pertama dari 3 bersaudara. Kak, saya mau konsultasi mengenai permasalahan yang saya alami.
    Menurut saya pribadi, saya telah mengalami kegangguan psikologi, Kak. Dan, masalah ini sebenarnya sangat dipengaruhi oleh kehidupan masa kecil saya.
    Saya dibesarkan dari keluarga yang tidak mampu. Waktu saya masih kecil, keluarga kami benar-benar miskin. Ayah hanya bekerja serabutan, bekerja hanya bila ada tetangga yang memerlukan tenaganya. Sementara Ibu hanya ibu rumah tangga biasa yang bekerjanya pun tidak berbeda dengan ayah, hanya serabutan, kadang menjadi buruh cuci, kadang bantu masak, kadang juga bantu orang bekerja di sawah. Dan lingkungan tempat tinggal ayah dan ibu saya (menurut pandangan saya) cukup buruk. Buruk dalam arti secara sosial, dimana saya melihat perzinahan dan perjudian menjadi suatu hal yang biasa (ayah juga suka judi). Dan, kebanyakan orangnya masih berpikir tradisional, baik dalam hal sosial kemasyarakatan, maupun manajemen keuangan keluarga. Dulu orangtua saya sering punya hutang, untuk menopang kehidupan kami, untuk makan juga untuk biaya sekolah kami. Dan saya sering mendengar tetangga menggunjingkan masalah orangtua saya. Saya sering menangis sendiri, tanpa sepengetahuan orangtua setiap kali mendengar tetangga bergunjing. Dan saya pun tidak pernah menyampaikan apa yg saya dengar kepada orangtua saya. Karena saya ga ingin mereka sedih. Permasalahan-permasalahan ini saya simpan, dan kadang membuat saya tampak murung.
    Dulu, mungkin karena keadaan, ibu sering beliin baju saya di tempat pedagang keliling yang biasanya menjual secara kredit. Dan, seminggu sekali penjual itu datang untuk menagih, tidak setiap kali datang ibu ada di rumah. Tiap kali tidak ada, saya yg menemui. Saya yang melihat ekspresi kekesalan penjual itu, saya yang mendengar omelan kekesalan orang itu. Hingga saya berjanji, tidak mau dibeliin baju secara kredit. Bahkan sempat berprinsip; lebih baik memakai baju lama yang masih layak drpd pakai baju baru tp hasil berhutang. Tp ibu pernah bohongin aku, beli secara kredit tp bilang langsung dibayar. Tp toh saya tahu juga, dari tetangga. Saat saya memakai baju itu, seorang tetangga bilang. “Itu baju yang ambil di tempat bu A, kemarin mau aku ambil ga jadi, ama ibumu dikredit 3x”. sampai rumah saya marah-marah, saya nangis karena merasa dibohongin. Padahal apa yang saya lakukan sebenarnya hanya ingin ibu ga punya hutang biar ga digunjing para tetangga.
    Tidak hanya itu, waktu saya masih duduk di bangku kelas 1 SD. Ayah saya pernah jadi korban penipuan tenaga kerja, saya lupa kerja di mana, yang jelas ke luar Jawa, dan keluarga lost contact hampir 2 tahun. Teman-teman yang berangkat barengan, ada beberapa yg pulang dan bilang beda tempat dengan ayah saya. Menurut cerita teman-temannya itu pula, mereka tidak digaji/tidak pula diberi makan. Mereka bisa pulang karena lari, dan menjadi pengemis untuk bs pulang. Ibu waktu itu pontang-panting kesana kemari mencari informasi, semakin cemas saat melihat dan mendegar cerita teman-teman ayah yang bisa pulang.
    Sebagai anak kecil waktu itu saya merasa sangat dewasa. Saya sering ikut-ikutan puasa, dan setiap kali ditanya saudara atau tetangga; “ kok puasa kenapa”, saya jawab “biar ayah lekas pulang,” dan saya masih ingat, seorang sodara memeluk saya sambil menangis mendengar kata-kata itu. Namun, ada kenangan pahit, yang masih terngiang-ngiang sampai skg. Di suatu sore, langit kecil bermain di rumah tetangga dan seorang tetangga dengan congkaknya berkata, “bapakmu ga pulang ya, bapakmu tuh ilang”, saya berusaha tersenyum, tapi waktu itu saya menahan air mata saya, jangan sampai keluar. Sampai sekarang saya masih ingat betul bagaimana ekspresi orang itu, dan masih teringat betapa pedihnya saat itu. Hingga waktu itu saya merasa tidak betah tinggal di rumah orangtua saya, begitu libur sekolah saya langsung ke rumah nenek. Saya pernah bilang ke orangtua, “saya ingin tinggal di rumah nenek saja, saya tidak kuat tinggal di desa ibu, orang-orangnya jahat,”. Tapi akhirnya, bapak juga pulang. Begitulah sepenggal kisah masa kecil saya.
    Menginjak remaja, saya mulai mengatur masa depan saya. Saya belajar sungguh-sungguh dan bertekad ingin meningkatkan kualitas hidup saya dibandingkan orangtua saya. Di kampung saya, saya memang tampak berbeda dengan teman-teman sebaya, saya tidak suka pacaran sembarangan (karena lingkungan saya memang buruk, banyak anak-anak SD-SMP uda pada pacaran kayak orang dewasa), saya jijik melihat tingkah laku mereka yang norak. Makanya, saya memilih tidak gabung. Saya lebih suka menghabiskan waktu buat belajar, menulis, dan melukis di rumah. Bahkan kedua orangtua saya terlalu membebaskan pergaulan saya, saya main sampai larut malam pun saya tidak dicari. Itu pernah saya saya lakukan waktu saya masih duduk di bangku kelas 5 SD, tapi saya Cuma main di rumah tetangga yang masih sebaya. Waktu itu saya hanya ngobrol saja sampai tidak terasa sudah jam 11 malam. Tapi lambat laun saya merasa itu tidak baik. Giliran adik saya, saya yang sering marah-marah jika jam 10 malam adik saya belum pulang. Saya heran dengan kedua orangtua saya, waktu itu sudah jam 10 malam lebih, tapi adik saya (waktu itu masih kelas 5 SD) belum pulang, sementara ibu sudah tidur, demikian pula ayah. Bisa tidur pulas, dan seolah tidak memerdulikan anaknya yg blm plg. Waktu saya menangis, dan teriak-teriak minta bapak nyari adik, ayah cuma bilang “ ganggu orang tidur, biarin aja, anak laki-laki main sampai malam ga apa-apa” waktu itu saya gemas sekali, mau keluar sendiri nyari tapi takut krn sudah larut malam.
    Setamat dari SMP, saya memutuskan masuk ke SMU. Itu sudah saya pikirkan masak-masak. Tapi ayah ingin saya masuk SMEA, sesuai arahan tetangga-tetangga saya. Para tetangga banyak yg memprovokasi ayah, katanya sy suruh masuk SMEA biar lulus bisa langsung bekerja, saya percaya semua itu. Tapi saya menolaknya dengan tegas. Saya tidak suka masuk SMEA, waktu itu yang membuat saya tidak suka masuk SMEA adalah, karena melihat tetangga-tetangga saya yang sekolah di SMEA rata-rata tampak norak, sering pacaran, dan banyak yang hamil sebelum lulus sekolah. Saya putuskan masuk SMU karena, saya bercita-cita masuk ke perguruan tinggi, meski orangtua tidak mampu, tp saya bertekad ingin bisa masuk PT. saya memang tahu kondisi orangtua, saya pesimis dengan semangat dan kemampuan orangtua untuk cita-cita saya ini. waktu itu saya sudah mempunyai rencana tersendiri, yaitu ingin jadi TKW ke luar negeri, biasanya kontrak Cuma 3 tahun. Selepas itu saya pulang bawa modal, bisa saya pakai buat buka usaha dan saya bisa kuliah dengan biaya sendiri plus punya usaha. Tapi saya tidak pernah menceritakan semua ini pada setiap orang, bahkan sama orangtua saya punya kebiasaan bercerita setelah waktunya mendekati.
    Nah, waktu itu banyak sekali maki-makian yang ditujukan kepada saya dr para tetangga. Ada yang mengatakan; “sekolah kok di SMA, mau jadi apa”. Waktu itu, saya hanya diam, saya merasa ga perlu berdebat dengan mereka, tapi dalam hati saya berkata “mau jadi apa setelah lulus SMU, itu urusan saya, mau jadi apa besok itu pilihan saya”, Setamat dari SMU pun sama. Waktu saya mengutarakan niat saya untuk melanjutkan ke perguruan tinggu, banyak sekali cibiran. “Anaknya orang ga punya saja kok gaya, pakai kuliah segala, ga kasian sama orangtuanya….bla…bla….”saya pun hanya diam, karena saya merasa ga perlu debat apalagi menjelaskan. Yang penting saya pny rencana sendiri. Iya, setamat SMU, waktu saya bertekad mau jadi TKW ke Malaysia, dan sy berusaha megutarakannya kepada kakek nenek saya, mereka melarang. Mereka langsung memberi saya uang untuk membeli formulir UMPTN dan bilang “belajarlah sungguh2, nanti kalau bisa ketrima di PTN, kami sanggup biayai”, dan alhamdulilah saya pun ketrima. Akhirnya saya kuliah di jurusan desain interior di sebuah PTN di Solo. Waktu saya semester 3, ayah meninggal dunia. Ayah bunuh diri, karena faktor ekonomi. Sering mendapat tekanan dari keluarga ibu, dianggap tidak bisa menghidupi keluarga.
    Kuliah dengan bantuan orang rasanya tidak nyaman, SPP ga seberapa, tp biaya tugas membuat saya tidak berkutik, malu dan takut tiap kali mau minta uang. Akhirnya saya kuliah sambil bekerja, awalnya hanya freelance menulis cerita untuk koran lokal. Dari portofolio tulisan itu akhirnya saya bisa jadi reporter freelance di sebuah tabloid di Semarang. Sejak itulah kuliah saya agak kedodoran, dan akhirnya DO setelah saya resmi menjadi karyawan tetap di sebuah penerbitan. Saya tidak merasa menyesal karena bisa bekerja sesuai hobi dan minat saya. Namun, saya tetap merasa ijasah itu penting, akhirnya 1 th menjadi karyawan tetap saya kuliah lg dan alhmdulilah telah selesai.
    Dan sekarang, permasalahannya adalah…..saya tidak betah tinggal di rumah saya sendiri. Dari SMU-kuliah saya tinggal bersama kakek-nenek dr ibu. Sekarang keduanya dah meninggal, dan saya tinggal sendirian. Apalagi sekarang, semua teman sebaya saya di kampung sudah menikah semua, rata-rata sudah mempunyai anak 1-3, walaupun banyak juga yang udah menjanda karena mendapat laki-laki yang salah. Trauma masa kecil seperti terulang kembali, sehingga membuat saya ga mau sama sekali untuk menegok keluarga di rumah. Saya tidak siap jika tetangga mempertanyakan status saya yang masih single. Setahun ke belakang, saya masih mampu berkunjung ke rumah, meski bisa dibilang sangat jarang. Tapi 6 bulan terakhir saya tidak berkunjung sama sekali, tepatnya sejak adik saya menikah. Saya malu dan merasa ga siap menghadapi tetangga-tetangga saya. Imbasnya, saya pun jadi tidak rela/ikhlas adik saya menikah lebih dulu drpd saya. Adik saya menikah saya tidak pulang, karena sudah pasti banyak keluarga dan tetangga berkumpul. Saya ga siap, drpada saya dating tapi tidak bisa mengendalikan emosi, saya pun memilih sembunyi. Semua telah terlanjur terjadi, tapi saya blum bisa menerima kenyataan. Akibatnya, sampai sekarang saya tidak perna pulang ke rumah, dan saya tidak pernah berkenalan dengan istri adik saya. Saya pun menghindar dari pertemuan-pertemuan keluarga besar, karena membuat saya semakin tidak nyaman. Sebenarnya, saya sudah punya pacar. Dan sudah 3,5 berpacaran. Tapi belum bisa menikah karena ada semua permasalahan yang belum bisa diselesaikan. Dan, kami pun dah punya planning sendiri, masalahnya memang saya cenderung tidak suka bercerita ke orang-orang, termasuk kluarga jika blm pasti.

    Saat ini saya merasa memiliki kepribadian ganda. Di lingkungan kantor dan teman-teman sekolah saya dikenal sebagai pribadi yang hangat, ceria, cerdas, dan humoris. Tapi di keluarga dan tetangga, saya dikenal sebagai pribadi yang misterius, sombong, pendiam, dan aneh. Kak Seto baik, apakah saya mengidap kelainan psikologis? Apa yang harus saya lakukan? Saya bingung harus kemana mengadu….
    Sebelumnya terima kasih atas perhatian dan nasehatnya.

    Salam,

    Langit

  6. Bu’ saya laki2 25 tahun, saya bingung mau crita ke siapa saya bingung..saya pernah ke tangkap basah sedang onani oleh orang tau saya..hal ini sangat memalukan buat saya..yang saya mau konsultasikan..apa yang harus saya lakukan apbila berhadapan dengan orang tua saya..bagaimana saya bersikap di depan orang tua saya..saya bingung..saya malu..saya stres mikirkan hal ini..karena ini sangat memalukan buat diri saya..
    Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih..
    Kalau mau diemailkan ini alamat email saya ”wawan_telpin@yahoo.co.id”

  7. dear bu nalini…
    bu, perkenalkan saya cewek berumur 21 tahun…nama saya Via…
    saya sudah capek dengan masalah ini. banyak waktu yang sudah terbuang. aku mempunyai masalah dengan hubunganku dengan seorang cowok. namanya Deni berumur 25 tahun… saya kenal dia sudah cukup lama sejak kelas 1 SMA. waktu itu sempat berpacaran selama 4 bulan dan akhirnya putus. akhir 2009 kemarin saya bertemu lagi dengan dia dan memutuskan untuk merajut cinta kami yang dulu sempat terputus ditengah jalan. jujur bu, aku sangat sayang dan cinta padanya. selama kami kenal, kami tidak pernah bertengkar. singkat cerita, pertemuan kami yang kedua ini, kami memutuskan untuk menikah karena kami merasa kami sudah sangat cocok dan umurpun bukan usia anak kecil lagi. dari pada kami pacaran dan membuang-buang waktu cukup banyak. suatu hari, tepatnya bulan maret kemarin dia memutuskan untuk melamarku. tapi ternyata orang tuaku menolak lamaran tersebut dengan alasan kami berdua masih sangat-sangat muda.sebenarnya bukan itu alasannya. tapi perbedaan derajad. selama kami pacaran memang orang tua ku tidak pernah komentar.jujur bu, aku kecewa… hingga akhirnya kami pun nekat. aku akhirnya hamil.tapi orang tua ku tetap tidak mau menikahkan kami.waktu saya jujur saya hamil, ibuku bilang bersedia menikahkan aku dengan dia. asalkan setelah menikah aku harus meninggalkan rumah itu. aku pun setuju dengan syarat tersebut. orang tua ku pun menyuruh orang tua Deni kerumah untuk memutuskan tanggal pernikahan. tapi pas hari H ternyata tidak sesuai rencana. lamaran itupun ditolak. aku bingung, malu, sakit hati dan kecewa atas sikap orang tuaku. ternyata orang tua ku lebih memilih menggugurkan kandunganku dari pada harus menikahkan aku. apa menikahkan anak itu merupakan perbuatan hina?setelah kejadian itu ortuku menyuruhku menggugurkan kandunganku.aku menolak untuk membunuh bayiku.berbagai obat mereka berikan, aku pun meminumnya. tapi |Alhamdulillah anakku masih dalam lindungan_Nya.singkat cerita, setelah aku melahirkan aku disuruh menandatangani surat pernyataan agar anakku di titipkan di panti asuhan yang ada di surabaya. tapi aku menolaknya. saat ini anakku malah diakui anak mereka. kepada tetangga anakku dibilang anak adopsian.sekarang memang ankku tidak tahu apa2. tapi bagaimana nanti besarnya. dia pasti benci padaku bu. sekarang aja anakku mulai dijauhkan dari aku. sebagai ibu aku sudah tidak dianggap. aku capek bu dengan keadaan ini. aku ingin menikah dengan ayah anakku. aku juga pernah di usir dari rumah tapi bodohnya aku, kenapa aku tidak keluar rumah dan tetap bertahan disitu. padahal aku sangat tersiksa.apalagi kondisi saat ini. aku tidak mampu melihat anakku berpisah dari ayahnya. aku sakit, aku terluka dengan keputusan orang tuaku. sebenarnya Deni mengajak aku menikah walaupun tanpa restu orang tua. semua itu demi anak kami dan demi cinta kami.kami tidak mau dibilang orang tua yang tidak bertanggung jwab. aku mohon tolong aku bu… aku butuh jawabanmu secepatnya.
    terima kasih.

  8. Perkenalkan saya Lestari usia 21 tahun, menikah dengan warga negara asing yang usianya terpaut jauh dengan saya yaitu 45 tahun. Sudah tiga tahun kami menikah tapi belum dikaruniai anak, sedangkan suami saya sibuk dengan pekerjaannya. Saya kurang diberi nafkah batin (hubungan suami istri)karena dia terlalu sibuk dan kelelahan untuk melakukan hal tersebut. Selain itu juga kami baru menyadari bahwa kami mempunyai banyak sekali perbedaan diantaranya beda agama, beda usia yang terpaut jauh, beda budaya dan sosial dan masih banyak lagi yang lainnya. Apa yang harus saya lakukan dengan keadaan saya seperti ini? Saya mohon agar diberikan solusi yang membuat saya bisa tegar dalam menghadapi masalah ini. Terimakasih sebelumnya.

  9. bagaimana mengembalikan kepercayaan yang hilang setelah suami ketahuan bermain api deaNGan seseorang, apa yang saya lakukan?

  10. sebut saja saya dina. saya baru menikah 4bulan. namun entah kenapa saya tidak bisa tenang menunggu masa-masa kehamilan. sudah 5 orang teman yang menikah dibulan yang sama dengan saya dinyatakan positif hamil. setiap saya mendengar berita kehamilan maupun perkembangan janin mereka, saya menangis. terkadang rasanya mereka pun kurang memahami perasaan saya. suami dan keluarga besar selalu berusaha menghibur agar saya tidak terlalu stress karena hal itu sendiri yang menghambat kehamilan saya. tapi saya tetap tidak bisa. banyak buku tentang cara memperoleh anak yg saya baca juga saya praktekkan. namun hasilnya masih nihil. apa yang harus saya lakukan agar saya bisa relax..mohon sarannya….

  11. Saya seorang cewek berumur 20 tahun,
    Saya sepertinya mengalami gangguan psikologi, saya sangat susah daslam bergaul, terkadang apabila saya bertemu dengan orang baru saya tidak bisa memulai pembicaraan.
    Tapi bila dengan orang yang saya kenal juga kadang demikian, saya bingung mau bicara apa, saya hanya nyaman berbicara dengan orang yang akrab dengan saya.
    Saya sangat terganggu dengan keadaan saya ini, saya ingin sekali sama dengan orang lain yang mudah bergaul.
    Saya sangat membutuhkan solusi dari ibu,
    Terima kasih,,,

  12. Saya seorang cewek berumur 20 tahun,
    Saya sepertinya mengalami gangguan psikologi, saya sangat susah daslam bergaul, terkadang apabila saya bertemu dengan orang baru saya tidak bisa memulai pembicaraan.
    Tapi bila dengan orang yang saya kenal juga kadang demikian, saya bingung mau bicara apa, saya hanya nyaman berbicara dengan orang yang akrab dengan saya.
    Saya sangat terganggu dengan keadaan saya ini, saya ingin sekali sama dengan orang lain yang mudah bergaul.
    Saya sangat membutuhkan solusi dari ibu,
    Terima kasih,,,

  13. saya wanita berusia 22 tahun,saya berpacaran dengan suami saya dulu hampir 5 tahun dan memutuskan untuk menikah,namun sampai menikahpun ibu mertua saya tidak suka dengan saya,padahal waktu itu beliau sendiri yang menyarankan untuk menikah dengan saya,tapi saya dan suami tinggal terpisah,saya tinggal di rumah saya dan dia di rumahnya,tapi setiap sabtu minggu dy menginap di rumah saya,saat saya hamil dia jadi berubah….saya tidak diijinkan untuk ke rumahnya bertemu ibunya,karna saya sangat ingin dekat dengan orang tuanya(ayahnya bekerja di pelayaran jadi jarang pulang) alasannya ibu belum siap,sampai saya melahirkan sikap mertua saya semakin menjadi,dia menyuruh suami saya untuk pulang saat saya melahirkan,saya malu pada saudara saya kenapa suami saya tidak ikut menginap padahal istrinya melahirkan,akhirnya orang tua sayapun merasa di permainkan,saat saya masih opname(karena caesar)ibu saya mendatangi rumahnya untuk bertemu orang tuanya,tapi orang tuanya tidakmau menemui,ibunya tetap berada di kamar tanpa mau menemui ibu saya,ibu saya pun marah dan bilang kalau suami saya tidak bertanggung jawab,setelah hari itu suami saya tidak pernah lagi datang ke rumah,tidak memberi kabar dan memutuskan komunikasi.saat saya berusaha menemuinya dia selalu kabur,sekalinya bertemu dia memaki saya….dalam hati saya bertanya apaa sebenarnya salah saya,saya selalu menuruti apa kemauannya tapi sekarang dia jadi seperti ini,ini sangat tidak adil……apa yang harus saya lakukan,sedangkan sikap suami saya tidak lagi seperti seorang muslim yang menjunjung tinggi tanggung jawab.adakah solusi dari permasalahan saya?saya sudah mencoba mengalah dengan minta maaf,menemuinya,mengirimkan email dan foto2 anak kami,meng sms bahkan meminta rujukan dr KUA setempat tapi dia tidak datang,RT tempat tinggalnya menyarankan agar saya melaporkannya ke pihak berwajib,sekarang anak saya berusia 3 bulan,saya merasa kasihan dan merasa bersalah pada anak saya….tolong mohon pencerahannya

  14. saya mau konsultasi
    saya mahasiswi s1 semester 4, saya mau menanyakan, saya rasa saya memiliki kelainan dalam kejiwaan, dari kecil dari saya SD, awal cerita begini:
    kelas 1 sd saya pindah dari bandung ke labuan, di sd baru saya ditempatkan guru untuk duduk disamping seorang teman perempuan namanya ANA.
    kami berteman baik hingga catur wulan 3, dan kemu dian kenaikan kelas, dan naik ke kelas 2, di situ mulai muncul masalah, kata ANA saya terlalu mengekang karna saya hanya ingin bermain, berbagi, dan apapun kegiatan saya lakukan dengannya. hingga akhirnya ia merasa bosan dan ingin berteman dengan yang lain. saya merasa sakit dan kemudian menangis tersedu-sedu saat ana memutuskan pertemanan kami, Ana berkata bukan tidak berteman tapi cobalah berteman dengan yang lain, dan sebenarnya sewaktu aku dengan ana aku juga berbaur dengan yg lainnya, dan berteman akrab, tapi aku hanya ingin dekat ana seorang.
    setelah kejadian itu aku berteman dengan fitri -dan dia pindah sekolah sewaktu aku kelas 4 sampai sekarang aku tak tahu bagaimana kabarnya- dan teman lainnya dan kami satu kelas sangat akrab, kemudian saya pindah sekolah ke serang disana saya berteman dengan normal sampai lulus..
    SMP saya masuk pesantren yang pasti kehidupan sehari-hari saya hanya ada wanita, dan saya berteman dengan mereka secara normal, sampai lulus saya membuat gank dengan teman terbaik saya.
    selanjutnya SMA, saya tetap pesantren tetapi kali ini bercampur dengan lelaki, saya punya teman lelaki dan sekaligus menjadi teman curhat saya, di mulai dari perasaan nyaman ke dia sampai akhirnya kita jadian sampai kelulusan kelas 3 SMA, putusnya sangat tragis, dia tanpa sepengetahuaan saya menikah, saya merasa amat terpukul, dan sedih yang berlarut hingga 1 bulan..
    Kulian, saya kuliah di sekolah tinggi swasta yang memisahkan ke hidupan pria dan wanita seperti dalam islam, jika kegiatan belajar kita sekelas, namun selebihnya jika tidak ada kepentingan maka tidak berinteraksi, tapi itu normal, kami tetap saling mengenal..
    problem besar dimulai, saat pertama masuk kesekolah tinggi(ST) tersebut saya dipaksa ortu saya, awal mula gak mau tapi setelah saya jatuh hati pada seorang pria bernama irfan saya jadi setuju untuk sekolah disitu, di ST itu seperti pesantren dengan asramanya, bagi saya yang sudah 6 th berasrama tentu bukan hal yang asing.. singkat cerita saya bertemu dengan seorang kakak angkatan saya, Dwi, dari pertama bertemu saya sudah tertarik untuk mendekatinya karna saya merasa cocok, dan benar sampai detik ini saya tulis, dia orang yang ku sayang, semester 1 dia dekat dengan seorang teman saya Siti, mereka lumayan akrab, namun ketika itu saya juga dekat namun masih belum terlalu akrab tetapi saya tertarik untuk mendekatinya, semester 2 dia mulai akrab dengan saya, saya senang, semester 3&4 kami lebih akrab dan itu membuat saya bahagia , namun saya tetap jatuh hati dengan irfan, masalah mulai aku sakit hati ketika Dwi dengan Siti, aku rasa seperti cemburu, dan itu yang menyiksa ku, Dwi orangnya innocence jadi ketika dia bersama siti dia tak merasa membuat saya sakit.
    itu membuat saya seperti tergantung pada Dwi, aku mau sayangnya Dwi hanya untukku, tapi Dwi bilang dia biasa aja ke aku ataupun ke siti, walaupun kadang terlihat sayang kepada aku dan siti.
    pertanyaan
    bagaimana sebenarnya aku dan Dwi?
    bagaimana cara menghilangkan rasa senang hanya pada Dwi karna itu membuat aku tergantung pada Dwi ?
    normalkah aku?

  15. Saya icha 25th,saat ini sya mrasa tdk nyman dgn suami sya. Suami sya smkin lbh sering mlihat situs anak sma bugil. Sblmnya prnah sya dapat video rec di hp suami sya sdang mrekam clna dlm anak sma. ini mbuat sy smkin jijik dngan perbuatannya.
    Sblumnya suami sya prnah mperkosa adik sya hingga mbuat dia diusir dr rumah. Ribuan kali dia mlakukn tindak asusila tp sya slalu maafkan.
    Blum lg stiap kali bhubungn bdan suami sya ejakulasi dini cpt skali,10dtk sdh slesai.
    Apa yg hrs sy lakukn?
    Sya benar2 dilema

  16. Dear,

    Sy berpacaran dg pacar sy sudah 8th. Sejak awal kami backstreet dr org tua sy krn takut tidak disetujui. Sy dg pacar sy masih saudara jauh (nenek sy dg nenek dia kakak beradik dr ibu yg berbeda/tiri). Setelah usia sy menginjak 25th dan sudah dalam usia pantas menikah, sy beranikan diri untuk terbuka ke ortu sy tentang hubungan kami. Namun ketakutan yg sy rasakan selama ini benar terjadi. Orang tua sy tidak merestui hubungan kami dg alasan “malu ke tetangga” karena sy berpacaran dg saudara sendiri. Sy kurang menerima alasan tersebut karena sy pikir kenapa harus malu terhadap orang lain, toh pernikahan yg lebih dekat hubungan keluarganya saja banyak di dunia ini. Misalkan saja orang batak, mereka menikah dg sepupu(pariban). Dan anak2 mereka sehat tanpa cacat karena faktor genetis yg masih dekat. Kalaupun malu karena jadi omongan orang, toh orang tidak bakal menggunjingkan ini selamanya. Pada saatnya nanti mereka berhenti dengan sendirinya. Ketika sy kemukakan alasan itu, ortu sy semakin mengada2, muncul lagi alasan bahwa mereka kecewa terhadap ortu pacar sy yg sejak awal memang sudah tahu hubungan kami dan juga merestui. Menurut ortu sy, seharusnya ortu pacar sy mengajak berunding sejak dulu agar perasaan cinta kami tidak tumbuh semakin dalam. Saya jadi semakin serba salah. Kalau sudah begini, sy takut kalaupun dipaksakan, kehidupan pernikahan kami tidak bahagia karena ortu kami sudah punya ganjalan masing2. Namun dilain sisi, sy sangat mencintai pacar sy. Sy dilema antara harus memaksakan kehendak demi kebahagiaan sy ataukah sy harus menuruti orang tua sebagai wujud bakti sy namun harus mengorbankan perasaan sy dan juga pacar sy. Hal ini sangat mengganggu sy dan menimbulkan stress yg makin hari makin menggila. Mohon bantuan dan petunjuknya apa yg harus sy lakukan. Terimakasih.

    Nunung-bekasi

  17. maaf saya mau tanya ,saya butuh solusi…, saya lg ad mslh ni sm cewek saya,,, maslhnya gara2 saya g sabaran kata dia, tp saya kyk gt krna saya liat statusnya dia ngetag nama cowok,,saya juga sudah tanya dan dia sbnrnya udh jwb “itu tmenku :(” begitu, tp saya emosi dan saya cuekin ,,lalu dia me-remove fb saya,,nah skrg saya bingung plus takut dia prgi,,nah yg harus saya lakuin skrg apa y pak? saya btuh bantuan ,,saya sayang bgt sm dia…dia masih marah, jwb smsnya masih ketus, tp klo g saya blz, dia sms trus ngancem” prgi,,nah saya harus gmn? biar dia g remove ane, trus gmn biar dia luluh lagi????? tolong ya pak, saya mahasiswa tgkat akhir, dia smster 2, nah saya hanya ingin solusi, apa saya harus berhenti memberi perhatian pada dia, atau kah bgmn? dan bgmn agar cewek saya itu mengerti bhwa jika ada maslah jgn lgsg mutusin hubungan d FB atau dmnpun krna tiap marah dia lgsg mutus hubungan +remove fb dan mngancam utk meninggalkan saya,,saya ingin dia dewasa pak, tolong pengarahannya y pak, jujur saya tidak mau kehilangan dia, saya sangt btuh solusi,,,saya sangat menyayangi dia,,saya bingung dgn diri saya sndiri, bhkan kadang saya juga benci diri saya sndiri,,tolong pak

  18. Bu saya mempunyai masalah keluarga sekitar 1 bln yg lalu saya mendapati istri saya sedang chatting dgn teman sekantor dan saya bertanya mengenai hubungannya dengan pria itu dan ternyata mereka berpacaran. Kemudian saya bertanya kenapa kamu lakulan itu semua dia hanya menjawab tidak tahu karena berjalan dengan sendirinya yang diawali dengan curhat. Dan istri ternyata juga mencintainya dan oemudian dia saya tanya apakah kamu masih mencintai saya dia menjawab ya. Tatapi dia tidak mau kehilangan kedua orang yang dicintainya ( saya dan pacarnya ) dan dmenginginkan bisa hidup bersama. Yang saya tanyakan :
    1. Kenapa istri saya mempunyai pemikiran seperti itu ? Dan itu tidak bsa saya terima, krn kami sdh mempunyai 2 orang anak.

  19. Saya ∫υğ∂ ingin konsultasi ϑĕπǵάπ ibu tεπtαπƍ masalah pribadi saya. Bgm caranya bu?? Mohon di-email kpd saya. Terima kasih sebelumnya, bu …

  20. Ibu nalini yang terhormat,
    Nama saya tommy, usia 39 thn. Saya memiliki masalah pribadi, yaitu Ťίδαĸ percaya diri. Beberapa thn lalu, saya pernah menaksir seorg gadis ϑí suatu acara. ☂άρĩ, ƙαяεпα şααt φϋ saya masih τ̅@ќ memiliki kemantapan finansial, saya pun tidak berani menegur. Ini membuat saya sampai şααt ini masih sangat-sangat kecewa ϑĕπǵάπ kejadian φϋ ϑäή berharap ƻЄ♍☺ǥƏ kami bisa bertemu lagi, ☂άρĩ nampaknya Ťίδαĸ mungkin …
    Şααt ini saya ♍äŚįϰ jomblo ϑäή sebenarnya saya ingin sekali menikah ϑäή punya pasangan hidup. Sebetulnya, saya ∫υğ∂ sadar, usia saya Чά‎πƍ Ʊϑaђ mulai tinggi (meskipun belum terlambat, kata orang-orang) membuat saya panik. Saya τ̅@ќ ingin kelak anak2 saya ♍äŚįϰ kecil sedangkan saya telah menua. Şααt ini, saya sedang berteman ϑĕπǵάπ seorg wanita Чά‎πƍ saya kenal berkat seorg sahabat.
    Saya terus terang mulai kebingungan ∫υğ∂ melihat teman-teman sebaya saya yang sudah memiliki keluarga dengan anak Чά‎πƍ sudah besar-besar sedangkan saya belum memulai apapun.. Saya ingin segera meresmikan hubungan saya dgnnya. ☂άρĩ, meskipun saya wiraswasta (kongsi ϑĕπǵάπ kakak), namun penghasilan saya ♍äŚįϰ minim. Belum dapat dikatakan kuat menopang kehidupan rumah tangga. Saya punya prinsip: Ĵĭƙă saya belum mantap secara finansial, saya tidak αƙαπ melangkah. Lagipula, sέкαяαηġ semua hal selalu menuntut biaya yang Ťίδαĸ sedikit. Alasan inilah Чά‎πƍ membuat saya τ̅@ќ berani melangkah lebih jauh dalam hubungan kami..
    Saya sangat stres memikirkan kedua soal ini.
    Mohon ibu nalini bersedia membantu saya.
    Terima kasih sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: