Clekit Jawa Pos 17 Feb 2009

Semua Sudah Nggak Waras…

Butuh bukti apa lagi sehingga semua pihak yang terkait praktik pengobatan oleh Ponari bisa bersikap bijaksana. Empat nyawa melayang, dugaan eksploitasi terhadap Ponari dan keluarga, serta terusiknya ketenangan Dusun Kedungsari, tempat tinggal Ponari, ternyata belum cukup menggerakkan aparat terkait di Jombang, Jawa Timur, untuk bertindak tegas dan rasional dengan mengakhiri praktik dukun tiban itu.

Kelompok warga dan aparat yang menamakan diri panitia pengobatan seperti tak jera dengan semua musibah itu. Mereka membuka kembali praktik pengobatan alternatif itu pada Sabtu (14/2) sore. Dan, indikasi awal musibah seperti akan terulang. Dalam dua jam, ratusan ’’pasien” pun terlayani. Pembukaan praktik yang bertujuan mengurangi antrean warga yang datang malah mendapat hasil yang bertolak belakang. Jangankan berkurang, ribuan pengunjung baru malah kembali berbondong-bondong ke rumah Ponari Minggu kemarin (15/2). Suasana Dusun Kedungsari pun kembali hiruk-pikuk. Celakanya, saat kumpulan warga antre semakin membeludak, panitia lagi-lagi dengan alasan tak jelas kembali menutup praktik. Kekecewaan kembali merebak.

Fenomena Ponari menarik minat pemerhati anak sekaligus Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi. Pria yang akrab dengan sebutan Kak Seto itu datang langsung ke kediaman Ponari di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Minggu (15/2) malam.

Kak Seto menduga ada indikasi bahwa bocah kelas III SD itu sudah tereksploitasi untuk keperluan bisnis oleh pihak-pihak tertentu. Sayangnya, alih-alih memberi solusi konstruktif, Kak Seto malah mengusulkan sesuatu yang justru memelihara sikap tidak rasional warga yang datang ke Ponari. Dia mengusulkan semacam tandon air, yang dilengkapi instalasi untuk mengalirkan air ke beberapa tempat di area lokasi praktik. Instalasi itu dihubungkan dengan pipa paralon dan dikucurkan dengan kran. Setiap hari tandon itu diisi air. Kemudian, Ponari mencelupkan batu miliknya ke dalam air tandon. Dengan demikian, pengunjung dapat leluasa mengambil air dari tandon melalui kran-kran yang ada.

Nah, sekarang sudah ketularan nggak waras semua, kan? Kecuali saya tentunya, hahaha!!

Advertisements

~ by wahyukokkang on February 17, 2009.

4 Responses to “Clekit Jawa Pos 17 Feb 2009”

  1. pancen mas gampang ngomong timbangane ngelakaoni..
    sampean pinter ngomong belum tentu pinter………?
    termasuk aku juga, aku yo pinter ngomong tok…..?

  2. Ponari….
    Realita Rakyat Indonesia sesunggunya…
    (masih kental dengan Takhayul)

  3. Ponari oh Ponari… sebetulnya air bertuahmu udah banyak dijual bebas khan? kenapa orang hrs berebut ke rumahmu? beli aja “PONARI SWEAT” di toko2 atau warung terdekat! beres khan? mengapa musti capek antri??? huahaha… Ponari, Ponari…

  4. gak ngono laK gak sugeh ponari
    wong ape arep sugeh pean semua kok iri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: